Pendidikan :

Pendidikan Karakter Masih Bias.

Sistem  dan kurikulum pendidikan di Indonesia tidak luput dari penanaman nilai-nilai dan norma agama, agama apapun itu. Berbagai macam upaya pengintegrasian agama dan sains telah coba diterapkan di berbagai jenjang pendidikan, namun sampai saat ini faktanya masih banyak bukti-bukti kegagalan hasil proses transformasi manusia di sebuah pabrik yang bernama pendidikan. Masih banyak orang yang berpendidikan tinggi, prestasinya tidak diragukan lagi, akan tetapi hal ini berbanding terbalik dengan karakternya sebagai manusia berpendidikan. Orang-orang semacam ini hanya cerdas secara intelektual akan tetapi rapuh secara spiritual dan humanitas.

Sebagai agama mayoritas di negeri ini, pendidikan Islam tentu ikut andil bahu-membahu dalam upaya menyukseskan sistem pendidikan di Indonesia. Bahkan tujuan pendidikan nasional pun hendak membentuk manusia-manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu,  cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab. Dengan demikian, internalisasi nilai terhadap siswa merupakan poin utama dalam tujan pendidikan di Indoensia.

Dari aspek tujuan diatas, kalimat tersebut tentu sudah cukup menjadi sebuah visi suatu sistem pendidikan yang ideal. Akan tetapi dalam pelaksanaannya, kata-kata diatas masih sulit untuk diimplementasikan kedalam aktivitas belajar-mengajar di kelas, dalam buku theologi pendidikan dikatakan bahwa tujuan pendidikan tersebut masih bias. padahal pengimplementasian ini sangatlah penting supaya membentuk budaya positif  bagi siswa, dimana kelak ketika  sudah dewasa, budaya ini akan membentuk suatu karakter permanen dalam diri siswa, sehingga tujuan pendidikan pun perlahan akan terwujud dengan sendirinya.

Selain itu, dari tujuan pendidikan diatas dapat ditarik sebuah pengertian, bahwa aspek keimanan, ketakwaan, akhlak mulia menjadi point utama tujuan pendidikan di negeri ini, oleh sebab itu saat ini pendidikan karakter tengah menjadi trend dan memiliki nilai jual tinggi terhadap “pasar” pendidikan di Indonesia. Sehingga menyedot minat dan perhatian masyarakat yang tidak sedikit walaupun biaya yang dikeluarkan cukup tinggi.

Permasalahan lain adalah, disaat pendidikan karakter menjadi persolana inti dunia pendidikan, tidak adanya standar proses, dan standar baku dari hasil proses pendidikan karakter ini, beberapa bentuk evaluasi yang ada saat ini, semuanya hanya berupa tes-tes yang hanya mengukur aspek kognitif siswa, sehingga mau tidak mau siswa akan digiring kedalam penguasaan mata pelajaran untuk mengejar nilai akademik belaka.  

Di beberapa sekolah, ada yang sudah mencoba menerapkan pendidikan karakter ini dengan menciptakan pembiasaan baik secara simbolik maupun berupa aktivitas siswa. Sebagai contoh, pembiasaan memakai busana muslim dihari jumat, pembacaan ayat suci al-quran setiap hari sebelum memulai kegiatan belajar-mengajar, pesantren kilat, shalat berjamaah dan lain-lain, kesemuanya itu hanya masih berada pada tataran pembiasaan aspek ritual saja yang bersifat shaleh individual. Sementara  penanaman aspek-aspek sifat-sifat dasar seperti jujur, tanggung jawab, berani, ulet dll masih menjadi barang langka dalam diri seorang siswa. Padahal justru sifat-sifat seperti inilah yang akan membuat siswa bisa survive ketika sedang berada dilingkungan yang tidak mendukungnya sekalipun. Seorang siswa yang rajin mengerjakan tugas akan menjadi biasa dan sudah sepantasnya manakala ia hidup dilingkungan kondusif, tapi siswa yang tetap dapat hidup rajin dalam lingkungan yang tidak kondusif, maka itulah siswa yang hebat.

Siswa semacam ini tidak akan bermasalah ketika ditempatkan dilingkungan seperti apapun, karena karakternya sudah melekat permanen dalam hidupnya. Dia akan hidup mandiri, mudah bergaul, luwes dan senantiasa berjiwa pembelajar, sehingga siswa yang demikian memiliki karakter kesalehan individual dan sosial sekaligus secara seimbang. Tujuan sistem pendidikan diatas diharapkan akan terinternalisasi kedalam setiap pribadi siswa dan insan pendidikan.

Terlepas dari agama yang dianut oleh setiap orang, sifat dasar tersebut seharusnya dimiliki oleh setiap individu, karena sifat-sifat tersebut merupakan kebenaran universal yang wajib dimiliki oleh setiap individu apapun latar belakangnya. Faktor keteladanan dari pendidik baik itu orang tua di rumah atau guru di sekolah perlu adanya penanaman hakikat keimanan itu sendiri sejak dini kepada anak.

Dengan demikian, seorang siswa dituntut untuk memadukan anasir (jamak dari unsur) kesalehan secara utuh, aspek keimanan dan ketakwaan seseorang seharusnya tidak hanya ter-ekspresi lewat perilaku dan aspek ritual saja, sementara disisi lain masih ada aspek sosial yang akan menentukan keharmonisan hubungan seseorang dengan manusia lainnya dimuka bumi ini.

Apabila kondisi ini sudah tercipta, maka akan terbentuklah sebuah tatanan masyarakat yang memiliki kemandirian dan memiliki integritas, dimana setiap individu akan turut berkontribusi dalam memajukan kesejahteraan umum, menuju keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

 

Wallahu a’lam.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s